Ambon, 12 Juni 2024—Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pattimura kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapasitas akademik dosen melalui penyelenggaraan Kuliah Master Class yang menghadirkan narasumber internasional, Professor Fridus dari Vrije Universiteit (VU) Amsterdam, The Netherlands. Kehadiran akademisi berpengalaman ini menjadi bagian dari strategi fakultas dalam memperkaya wawasan global, memperdalam metodologi riset kontemporer, dan memperkuat jejaring internasional yang relevan dengan kebutuhan pengembangan ilmu sosial di era modern.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dosen dari berbagai program studi di lingkungan FISIP Unpatti, mulai dari Administrasi Publik, Sosiologi, Ilmu Komunikasi, hingga Hubungan Internasional. Sesi pembukaan diawali dengan sambutan pimpinan fakultas yang secara khusus menyampaikan apresiasi atas kesediaan Professor Fridus hadir dan berbagi pengalaman ilmiah bersama para dosen. Dalam sambutannya, pimpinan FISIP menegaskan bahwa kuliah master class seperti ini merupakan bagian penting dari strategi peningkatan kualitas tridharma perguruan tinggi, terutama pada aspek penelitian dan pengajaran yang berbasis pendekatan global dan metodologi mutakhir.
Lebih jauh, pimpinan fakultas menekankan bahwa kehadiran ahli internasional dalam forum akademik diharapkan tidak hanya menjadi ruang belajar jangka pendek, tetapi juga membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih berkelanjutan. Hubungan antara Universitas Pattimura dan Vrije Universiteit Amsterdam diharapkan dapat berkembang dalam bentuk riset kolaboratif, joint-seminar, hingga peluang pertukaran akademik yang memberikan manfaat timbal balik. Hal ini menjadi sangat penting mengingat FISIP Unpatti terus berupaya memperkuat posisi sebagai institusi pendidikan yang mampu bersaing secara regional maupun global.
Dalam penyampaian materinya, Professor Fridus memberikan kuliah yang komprehensif mengenai pendekatan etnografi dan metode penelitian sosial di era digital. Ia menjelaskan bagaimana metode etnografi kini semakin relevan dalam memahami kompleksitas kehidupan sosial, terutama pada masyarakat kepulauan seperti Maluku yang memiliki keragaman budaya, dinamika sosial, serta relasi komunitas yang unik. Menurutnya, peneliti sosial masa kini dituntut memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tanpa meninggalkan esensi metode klasik yang menekankan pada kedalaman pemahaman terhadap konteks dan budaya lokal.
Professor Fridus turut menyoroti pentingnya sensitivitas budaya dalam proses penelitian lapangan, termasuk kemampuan membangun hubungan kepercayaan dengan komunitas, menjaga integritas akademik, serta memastikan bahwa setiap proses pendokumentasian dilakukan secara etis. Ia memaparkan bagaimana ruang digital telah menciptakan bentuk-bentuk interaksi sosial baru, mulai dari komunitas virtual, pola komunikasi daring, hingga perubahan perilaku masyarakat yang kini banyak dipengaruhi oleh media sosial. Bagi peneliti, fenomena ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan dalam mengumpulkan data, menganalisis dinamika sosial, dan menafsirkan perubahan perilaku masyarakat secara lebih mendalam.
Antusiasme peserta terlihat sejak sesi awal presentasi. Para dosen aktif mengajukan pertanyaan, menyampaikan pengalaman penelitian mereka di berbagai daerah, serta berdiskusi mengenai pilihan metode yang paling sesuai untuk konteks penelitian di wilayah kepulauan. Diskusi semakin menarik ketika Professor Fridus memberikan contoh kasus penelitian yang ia lakukan di berbagai wilayah di Asia Tenggara. Ia menunjukkan bagaimana pendekatan interdisipliner dan pemanfaatan teknologi dapat menghasilkan analisis yang lebih tajam dan relevan terhadap isu-isu sosial kontemporer.
Tidak hanya membahas teori, Professor Fridus juga memberikan penjelasan mengenai teknik pengumpulan data digital, penggunaan perangkat lunak analisis kualitatif, serta pentingnya triangulasi data untuk memastikan validitas temuan. Pendekatan praktis ini sangat membantu para dosen dalam memahami penerapan metode kualitatif secara lebih sistematis dan sesuai dengan standar internasional. Beberapa dosen menyampaikan bahwa materi ini membuka wawasan baru mengenai cara-cara kreatif dalam mengembangkan penelitian mereka, baik untuk tujuan publikasi ilmiah maupun pengembangan materi ajar.
Kegiatan Master Class ini ditutup dengan sesi refleksi bersama. Para peserta menyampaikan bahwa pengalaman belajar ini sangat berharga, terutama karena memberikan gambaran utuh mengenai dinamika penelitian sosial di era digital serta relevansinya dengan konteks lokal Maluku. Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas dosen FISIP Unpatti yang berkelanjutan.
FISIP Unpatti menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda akademik semata, tetapi juga langkah strategis untuk mendorong internasionalisasi fakultas. Dengan melibatkan akademisi internasional dan membuka ruang kolaborasi global, fakultas berharap kualitas penelitian, publikasi ilmiah, dan pembelajaran dapat meningkat secara signifikan. Lebih jauh, melalui penguatan kapasitas dosen, FISIP Unpatti berupaya berkontribusi dalam menghasilkan karya ilmiah yang lebih kompetitif, relevan, serta berdampak bagi pembangunan daerah dan pengembangan ilmu pengetahuan secara lebih luas.

More Stories
PERTEMUAN DAN TOUR KOTA DILI BERSAMA ALUMNI FISIP UNPATTI DARI TIMOR LASTE
PERTEMUAN DAN PENANDA-TANGANAN DOKUMEN KERJASAMA (MOU) dan PKS ANTARA UNIVERSITAS PATTIMURA DENGAN UNIVERSITAS NASIONAL TIMOR LASTE (UNTL) DAN PKS ANTARA FISIP UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON DAN FISIPOL UNIVERSITAS NASIONAL TIMOR LASTE
KULIAH UMUM PROFESSOR FRIDUS – VRIDGE UNIVERSITEIT THE NETHERLANDS BAGI MAHASISWA FISIP UNPATTI