Pada 17 Juni 2022, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pattimura menyelenggarakan Kuliah Umum Rumah Holand, sebuah kegiatan akademik yang menghadirkan akademisi internasional, Professor Fridus, dari Vrije Universiteit (VU) Amsterdam, The Netherlands. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengayaan akademik yang dirancang untuk memberikan akses bagi mahasiswa terhadap perspektif global, khususnya dalam bidang ilmu sosial, budaya, dan penelitian kualitatif. Kehadiran narasumber dari luar negeri menjadi bentuk komitmen FISIP Unpatti dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperluas jejaring akademik di tingkat internasional.
Kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FISIP Unpatti, termasuk Sosiologi, Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Komunikasi, dan Hubungan Internasional. Suasana kegiatan sejak awal telah menunjukkan antusiasme tinggi, terlihat dari banyaknya mahasiswa yang hadir dan kesiapan mereka untuk terlibat aktif dalam sesi diskusi. Pada sesi pembukaan, perwakilan fakultas menyampaikan apresiasi atas kesempatan berharga ini. Selain memberikan sambutan penyambutan, pihak fakultas juga menegaskan pentingnya pertukaran gagasan lintas negara dalam memperkaya wawasan akademik mahasiswa, terutama karena Maluku memiliki konteks sejarah dan budaya yang memiliki keterkaitan kuat dengan Belanda.
Dalam sesi penyampaian materi, Professor Fridus menguraikan dinamika sosial budaya masyarakat kepulauan dengan pendekatan yang kritis, historis, dan reflektif. Ia menjelaskan bagaimana sejarah panjang interaksi Indonesia–Belanda membentuk struktur sosial dan identitas budaya masyarakat di berbagai wilayah, termasuk Maluku. Lebih jauh, ia menggambarkan bagaimana perubahan sosial terjadi di masyarakat kepulauan, serta tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan identitas lokal di tengah modernisasi, arus globalisasi, dan perkembangan teknologi komunikasi.
Salah satu bagian menarik dari materi adalah pembahasan mengenai hubungan sejarah Indonesia dan Belanda yang melibatkan proses kolonialisme, pertukaran budaya, serta relasi sosial yang masih berpengaruh hingga saat ini. Melalui pendekatan kajian budaya dan antropologi, Professor Fridus memperlihatkan bahwa warisan kolonial tidak hanya berupa peninggalan fisik, tetapi juga hadir dalam dinamika relasi sosial, pola komunikasi, sistem nilai, dan narasi sejarah yang diajarkan antar generasi. Penjelasan ini membuka ruang pemahaman baru bagi mahasiswa mengenai bagaimana sejarah global membentuk identitas dan dinamika masyarakat lokal.
Selain itu, Professor Fridus menekankan pentingnya metode penelitian kualitatif sebagai pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas dinamika sosial. Ia menjelaskan bagaimana observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis naratif dapat digunakan untuk memahami pengalaman sosial masyarakat kepulauan secara lebih holistik. Penjelasan ini diperkaya dengan berbagi pengalaman penelitian lapangan yang pernah dilakukannya di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Maluku, sehingga mahasiswa dapat melihat aplikasi nyata dari teori yang dipelajari di kelas.
Antusiasme mahasiswa terlihat jelas sepanjang sesi berlangsung. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan mengenai sejarah kolonial di Maluku, transformasi sosial di wilayah kepulauan, hingga strategi metodologis yang dapat digunakan untuk meneliti isu-isu sosial budaya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan tingginya minat mahasiswa untuk memahami masyarakatnya melalui kacamata akademik yang lebih luas. Professor Fridus menanggapi setiap pertanyaan dengan pendekatan dialogis, mengajak mahasiswa untuk berpikir kritis, mempertimbangkan berbagai perspektif, dan menghubungkan teori dengan konteks kehidupan sehari-hari.
Diskusi tidak hanya berlangsung formal, tetapi berkembang menjadi percakapan akademik yang mendalam dan interaktif. Banyak mahasiswa menyampaikan bahwa materi yang disampaikan membantu mereka memahami kembali relasi Indonesia–Belanda dengan cara yang lebih objektif dan analitis, jauh dari sekadar narasi historis yang biasa mereka temui. Di sisi lain, dosen-dosen yang hadir juga melihat kegiatan ini sebagai kesempatan penting untuk memperkaya metode pengajaran dan memperluas kolaborasi riset dengan institusi pendidikan tinggi di luar negeri.
Kuliah umum ini dinilai memiliki dampak signifikan dalam memperluas cakrawala intelektual mahasiswa, terutama dalam memahami persoalan sosial budaya Maluku dalam perspektif global. Materi yang disampaikan tidak hanya memperkaya pemahaman sejarah dan budaya, tetapi juga memperkuat kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya penelitian ilmiah yang sensitif terhadap konteks lokal. Kegiatan ini semakin relevan mengingat masyarakat Maluku memiliki sejarah panjang interaksi dengan dunia global dan terus mengalami dinamika sosial yang membutuhkan kajian lebih mendalam.
Kegiatan kuliah umum diakhiri dengan sesi diskusi terbuka dan foto bersama antara mahasiswa, dosen, dan Professor Fridus. Suasana penutupan mencerminkan keberhasilan kegiatan dalam menciptakan pengalaman akademik yang bermakna. Selain menjadi ruang pembelajaran yang inspiratif, kegiatan ini sekaligus memperkuat hubungan akademik antara Universitas Pattimura dan Vrije Universiteit Amsterdam.
Secara keseluruhan, Kuliah Umum Rumah Holand ini menjadi pengalaman akademik yang memperkaya pemahaman mahasiswa FISIP Unpatti, mendorong semangat belajar kritis dan reflektif, serta memperkuat komitmen fakultas dalam mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi di Maluku.

More Stories
PERTEMUAN DAN TOUR KOTA DILI BERSAMA ALUMNI FISIP UNPATTI DARI TIMOR LASTE
PERTEMUAN DAN PENANDA-TANGANAN DOKUMEN KERJASAMA (MOU) dan PKS ANTARA UNIVERSITAS PATTIMURA DENGAN UNIVERSITAS NASIONAL TIMOR LASTE (UNTL) DAN PKS ANTARA FISIP UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON DAN FISIPOL UNIVERSITAS NASIONAL TIMOR LASTE
DIALOG ANTARA PIMPINAN FISIP UNPATTI DENGAN WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA VLISSINGEN BERSAMA ROMBONGAN DARI BELANDA DI KAMPUS FISIP UNPATTI